وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.
Penakwilan firman Allah: وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ النَّابُوتُ (Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: " Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut Anda)
Abu Ja'far berkata: Berita yang datang dari Allah tentang Nabi-Nya yang Dia ceritakan ini adalah bukti bahwasanya pemuka Bani Israil yang menjadi tujuan firman ini tidak mengakui diangkatnya Thalut sebagai raja mereka. Ketika Nabi mereka memberitahukan hal itu kepada mereka dan mengenalkan kelebihannya yang diberikan oleh Allah, mereka malah meminta kepada Nabi mereka sebuah bukti kebenaran yang diucapkan Nabi itu.
Maka Penakwilan perkataan tersebut, jika kondisinya seperti yang kami sebutkan : " وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui" (Qs. Al Baqarah [2]: 247) lalu mereka berkata kepadanya: "Apakah buktinya jika engkau memang termasuk orang-orang yang jujur!", lalu Nabi mereka mengatakan kepada mereka: إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التّابُوتُ "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu".
Kisah ini, meskipun berita ini dari Allah, tentang pemuka Bani Israil dan Nabi mereka, dan permintaan yang datang dari diri mereka sendiri agar ia memohon kepada Allah untuk mengangkat seorang raja agar mereka bisa ikut bersamanya di jalan Allah. Juga sebagai berita pendustaan mereka pada Nabi mereka setelah mereka tahu akan kenabiannya, dan pelanggaran mereka terhadap janji untuk berjihad yang mereka buat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan cara berbalik dari peperangan ketika mereka diminta untuk ikut menelepon, dan kemenangan yang Allah berikan kepada kelompok kecil dari mereka yang ikut berperang serta membuat malu kelompok yang banyak yang tidak ikut menelepon.
Itu semua adalah sebuah pendidikan bagi suku mereka yang ada di tengah-tengah Madinah, yaitu orang Yahudi Bani Nadhir dan Bani Quraizah. Sejatinya mereka sama saja dengan pendahuluan mereka dalam mendustakan perintah dan larangan Nabi Muhammad, sedangkan mereka mengetahui kebenaran, dan mengetahui kebenaran kenabiannya. Sebelum diutusnya Rasulullah mereka meminta pertolongan kepada Allah agar diutus seorang Nabi untuk melawan musuh mereka. Dahulu, pendahulu mereka juga mendustakan Nabi Syamuel bin Bali sedangkan mereka mengetahui kebenaran dan kebenaran kenabiannya, serta keengganan mereka untuk berjuang bersama Thalut ketika Allah mengangkatnya menjadi raja mereka padahal sebelumnya mereka kepada Nabi mereka, dengan inisiatif mereka sendiri, untuk memohon kepada Allah agar mengutus seorang raja untuk mereka sehingga mereka ikut serta melawan musuh mereka di jalan Allah, padahal Syamuel setelah itu menganalisis kebenaran kata-kata mereka.
Ayat ini juga merupakan sebuah ajakan kepada sahabat- sahabat Rasulullah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya untuk berjihad di jalan Allah dan sebuah peringatan jangan sampai mereka tidak mau berperang dan meninggalkan Nabi ketika berjumpa dengan musuh dan melawan orang kafir seperti halnya para pemuka Bani Israel ketika mereka tidak mau berperang bersama Thalut raja mereka ketika ia melawan Jalut musuh Allah, dan mereka lebih mendahulukan kenyamanan dan keenakan dibanding panasnya berjihad di jalan Allah.
Thalut meminta mereka untuk memerangi orang kafir, dan meninggalkan rasa takut untuk memerangi mereka meskipun jumlah mereka sedikit dan musuh mereka banyak serta kuat pasukannya, dengan firman Allah :
قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَقُوا اللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلة غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةٌ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, ia berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah dan Allah beserta orang-orang yang sabar" (Qs. Al Baqarah [2]: 249)
dan ayat ini juga sebagi pemberitahuan dari Allah bahwasanya kemenangan dan kekalahan, dan kebaikan dan keburukan ada dalam kekuasaan Allah.
Adapun yang dimaksud dengan firman Allah: وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ "Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka" yaitu kepada sekumpulan orang-orang dari Bani Israil yang mengatakan kepada Nabi mereka: ابْعَثْ لَنَا لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". (Qs. Al Baqarah [2]: 246), sedangkan firman-Nya إِنْ آيَةً مُلْكِهِ "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja" artinya: sesungguhnya tanda kekuasaan Thalut yang kalian minta sebagai bukti kebenaran perkataanku:
" Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut sebagai raja kalian, meskipun dia bukan berasal dari keturunan pemegang kekuasaan أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ
"Ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu"
itulah peti yang dahulu jika Bani Israil menjumpai musuh mereka, mereka keluarkan dan membantu bersamanya, sehingga tidak satupun musuh yang bisa melawan dan mengalahkan mereka. pada mereka selama-lamanya.
Para ahli takwil berbeda pendapat tentang sebab datangnya peti yang Allah jadikan kedatangannya debagai bukti kebenaran perkataan Nabi mereka Syamuel: إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا
" Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu” (Qs. Al Baqarah [2]: 247)
apakah terlebih dahulu peti tersebut telah diambil dari mereka sebelum itu lalu dikembalikan kepada mereka ketika peti tersebut datang sebagai bukti kekuasaan Thalut, ataukah memang tidak diambil dari mereka, akan tetapi Allah lah yang mulai memberikannya kepada mereka? Sebagian ulama berpendapat: bahkan peti tersebut ada pada mereka sejak zaman Musa dan Harun di mana mereka saling mewarisinya sampai diambil oleh raja-raja kafir, lalu Allah mengembalikannya kepada mereka sebagai tanda kekuasaan Thalut. Alasan peti tersebut dikembalikan kepada mereka sebagaimana yang saya sebutkan, berdasarkan riwayat-riwayat sebagai berikut:
Dari Al Mutsanna menceritakan seperti itu kepada saya, ia berkata: Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Isma'il bin Abdul Karim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Shamad bin Ma'qil menceritakan kepada saya, bahwasanya ia mendengar Wahb bin Munabbih mengatakan: 'Ili yang mengasuh Syamuel mempunyai dua anak laki-laki yang masih muda, mereka berdua telah membuat sesuatu yang baru dalam masalah kurban yang tidak seharusnya.
Di dalam campuran kurban yang mereka pakai ada dua tusuk sate, apa yang mereka keluarkan itu adalah kepunyaan pendeta yang mengaduknya, lalu kedua anaknya menjadikannya beberapa tusuk. Ketika perempuan datang untuk shalat di rumah ibadah, mereka berdua menarik-narik perempuan-perempuan itu.
Ketika Asymuel tidur di dekat rumah tempat 'Ili tidur, tiba-tiba ia mendengar suara berkata: "Wahai Asymuel!" Lalu Asymuel melompat menuju 'Ili dan berkata: "Ya, kenapa engkau memanggilku?" Lalu 'Ili menjawab: "Tidak, kembalilah. Lanjutkan tidurmu". Kemudian ia kembali dan melanjutkan tidurnya. Lalu ia mendengar suara lagi berkata: "Wahai Asymuel!" Lalu ia melompat lagi menuju 'Ili dan berkata: "Ya, kenapa engkau memanggilku?" Lalu 'Ili menjawab: "Aku tidak memanggilmu, kembalilah dan lanjutkan tidurmu! jika engkau mendengar sesuatu maka katakanlah: ya! Dan tetaplah di tempatmu perintahkan saja, aku akan laksanakan".
Lalu ia kembali dan melanjutkan tidurnya, kemudian mendengar lagi suara memanggil: "Wahai Asymuel!". Lalu Asymuel menjawab: "Ya, ini aku, perintahkan saja niscaya aku akan laksanakan!". Suara itu menjawab: "Pergilah kepada 'Ili!, dan katakan padanya: cintanya kepada anak membuatnya enggan melarang anaknya melakukan sesuatu yang tidak layak di tempat suciku dan qurbanku, dan keduanya bermaksiat padaku, aku pasti akan mencabut pangkat kependetaan darinya dan anaknya, dan niscaya aku binasakan dia beserta kedua anaknya!" Ketika pagi, 'Ili bertanya kepada Asymuel, Asymuel lalu menceritakannya sehingga 'Ili menjadi sangat takut.
Kemudian musuh mereka di sekitar kampung mereka ingin menyerang. Ili kemudian memerintahkan kedua anaknya untuk bertarung melawan musuh tersebut. Mereka berdua keluar bersama peti yang berisi dua lembaran dan tongkat Musa agar mereka menang. Ketika mereka dan musuh mereka telah siap untuk bernyanyi, 'Ili mulai berspekulasi-duga bagaimana berita mereka. Ketika ia sedang duduk di kursinya tiba-tiba datang seseorang memberitakannya bahwa kedua keponakannya telah diberikan dan mereka telah kalah. Lalu "Ili berkata:" Lalu bagaimana petinya? ". Orang itu menjawab: "Dibawa pergi oleh musuh". Wahb bin Munabbih berkata: “Ili lalu histeris dan jatuh tersungkur dari kursinya, kemudian mati.
Orang-orang yang merampas peti itu pergi membawa dan meletakannya di rumah ibadah mereka. Didalamnya ada berhala-berhala milik mereka. Lalu mereka meletakkan peti itu di bawah berhala. Tetapi keesokan harinya berhala berada di bawah dan peti itu justru ada di atasnya. Lalu mereka mengambil berhala tersebut dan meletakanya di atas peti itu dan mereka tancapkan kedua kaki berhala ke dalam peti. Keesokan harinya, ternyata kedua tangan dan kaki berhala tersebut telah terputus, dan tersungkur di bawah peti. Lalu satu sama lain berkata: "Kalian telah mengetahui bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat berdiri di atas Tuhan Bani Israil. Keluarkanlah peti itu dari rumah ibadah kalian!".
Lalu mereka mengeluarkan peti itu dan meletakannya di pojok kampung mereka. Kemudian penduduk pojok kampung tersebut mulai merasakan sakit di leher mereka. Lalu mereka berkata: "Apa ini?" Kemudian seorang budak perempuan hasil tawanan dari Bani Israil berkata kepada mereka: "Sesungguhnya kalian akan selalu menjumpai apa yang tidak kalian sukai selama peti itu ada pada kalian, keluarkanlah dari kampung kalian!" lalu mereka berkata: "Engkau berdusta!". Budak perempuan itu berkata: "Tandanya adalah kalian mendatangkan dua ekor sapi betina yang mempunyai anak dan tidak pernah diletakan kayu tengkuk pada kedua sapi tersebut. Lalu letakanlah anak sapi di belakang kedua sapi tersebut, dan letakanlah peti tersebut pada anak sapi tadi dan giringlah kedua sapi itu dan tahanlah anak kedua sapi itu sesungguhnya keduanya akan tunduk untuk pergi. Jika kedua sapi itu telah keluar dari kampung kalian, dan sampai di dekat kampung Bani Israil, mereka akan ke kayu tengkuk mereka dan pada anak mereka".
Mereka meletakannya di puing-puing hasil panenan Bani Israil. Lalu Bani Israil mendekatinya. Akan tetapi tidak seorangpun yang mendekatinya melainkan pasti akan mati. Lalu Nabi mereka Syamuel berkata kepada mereka: "Minggirlah! Barangsiapa yang merasa kuat silahkan mendekat". Maka mereka semua menyingkir dan tidak ada yang berani mendekat kecuali dua orang laki-laki dari Bani Israil yang diizinkan untuk membawanya ke rumah ibu mereka, seorang janda. Peti tersebut terus berada dalam rumah mereka sampai Thalut menjadi raja, kemudian keadaan Bani Israil membaik bersama Syamuel.
Dari Ibnu Humaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Salamah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ishaq, ia berkata: sebagian ulama menceritakan kepadaku, dari Wahb bin Munabbih, ia berkata: Syamuel berkata kepada Bani Israil ketika mereka mengatakan :
أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَتْهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ، بَسْطَةُ فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ
"Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak" Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. (Qs. Al Baqarah [2]: 247) dan tanda kekuasaannya adalah: "Tanda diangkatnya dia menjadi raja oleh Allah adalah datangnya peti itu pada kalian yang akan mengembalikan ketenangan dan sisa peninggalan keluarga Musa dan Harun pada kalian. Itulah peti yang kalian pakai untuk mengalahkan musuh yang kalian temui!" Mereka lalu mengatakan: "Jika peti itu telah datang maka kami pasti rela dan menerima". Orang-orang yang mengambil peti itu berada di bawah gunung. Gunung Iliya, letaknya berada di antara tempat mereka dan Mesir. Mereka penyembah berhala.
Salah seorang dari mereka bernama Jalut, seorang yang bertubuh perkasa dan bertenaga kuat dan hebat berperang. Kehebatannya terkenal di kalangan orang banyak. Ketika peti itu dirampas, ia ditaruh di salah satu kampung palestina bernama Azdud. Mereka meletakannya di gereja yang berisi berhala-berhala mereka. Ketika ada perintah Nabi sebab janji kepada Bani Israil bahwa peti itu akan datang kepada mereka, berhala-berhala di dalam gereja tersebut menjadi terjungkal. Lalu Allah mengutus seekor tikus pada penduduk kampung itu. Tikus itu kemudian menggigit seseorang hingga esok paginya ia telah diketemukan dalam keadaan tidak bernyawa, dimakan isi perutnya dari bagian duburnya.
Mereka mengatakan: "Tahukah kalian bahwa kalian telah ditimpa musibah yang belum pernah menimpa bangsa manapun, dan kita tidak mengetahuinya kecuali setelah peti itu ada pada kita, disamping kalian telah melihat berhala-berhala kalian setiap pagi terjungkal, suatu hal yang belum pernah terjadi sampai peti itu bersamanya, keluarkanlah peti itu dari kalian!". Lalu mereka meminta seekor anak sapi. Lalu peti itu diikatkan di atasnya. Kemudian mereka mengikat anak sapi itu dengan dua ekor lembu jantan lalu memukul punggungnya.
Setelah itu keluarlah beberapa malaikat yang menggiring lembu tadi. Mereka melihat takut peti itu di atas seekor anak sapi yang ditarik dua ekor lembu. Lembu itu kemudian berhenti pada Bani Israil. Lalu mereka pun takbir dan memuji Allah dan mereka menang dalam peperangan mereka dan semua bersatu tunduk pada Thalut.
Dari Al Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata: Al Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepada saya, dari Ibnu Juraij, ia berkata: Ibnu Abbas, ia berkata: ketika Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesunguhnya Allah telah memilih Thalut untuk kalian dan menganugerahinya keluasan ilmu dan tubuh yang perkasa", mereka enggan untuk menyerahkan kekuasaan kepadanya, hingga Nabi mereka إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ : berkata " sejujurnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut Anda, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu" Nabi mereka berkata: "Apa pendapat kalian jika peti itu yang mengandung ketenangan dan peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh malaikat datang kepada kalian".
Ketika Musa melemparkan papan Taurat, papan tersebut itu lalu pecah. Kemudian diangkat ke langit dan diturunkan lagi. Kemudian dikumpulkan yang masih tersisa dan diletakan di dalam peti itu. Ibnu Juraij berkata: Ya'la bin Muslim memberitahukan kepadaku, dari Sa'id bin Jabir, dari Ibnu Abbas: hanya tersisa seperenam dari papan itu. Ia mengatakan: bahwa peti itu telah dirampas oleh orang-orang kuat. Mereka adalah sekelompok suku kaum 'Ad mereka dulu menetap di Ariha. Malaikat lalu membawa peti itu menuju tempat antara langit dan bumi. Mereka menjaga peti itu sampai mereka berikan pada Thalut. Ketika mereka melihat hal itu, mereka berkata: “Ya!”, lalu mereka tunduk dan menerima sebagai raja mereka.
Ibnu Abbas berkata: Dahulu ketika terjadi peperangan, para Nabi mereka menyerahkan peti itu di hadapan mereka dan berkata: sesungguhnya Adam turun dari langit dengan menggunakan peti dan tiang itu. Ada berita sampai saya bahwa peti dan tongkat Musa itu berada di Danau Thibriyah, dan akan keluar sebelum hari pemberhentian.
Dari Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Shamad bin Ma'qil memberitahukan kepada kami, bahwasanya ia mendengar Wahb bin Munabbih mengatakan: Ketika Baitul Maqdis penghancuran dan kitab-kitab suci dibakar, Armia berdiri di sisi gunung dan berkata: أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مائة عام Lalu Allah mengembalikan orang-orang Bani Israil yang masih hidup (dari pengungsian mereka) di saat Armia telah mati selama tujuh puluh tahun. Lalu Bani Israil membangun Baitul Maqdis selama tiga puluh tahun hingga selesailah masa kematian Armia menjadi seratus tahun.
Kemudian Allah mengembalikan rohnya sedangkan kota itu telah makmur seperti sedia kala (seperti sebelum dihancurkan). Maka ketika Allah ingin mengembalikan peti itu kepada mereka, Allah mewahyukan kepada salah seorang Nabi-Nya -bisa Danial atau bukan-: "Jika penyakit kalian ingin dihapuskan, maka keluarkanlah peti ini!". Lalu mereka berkata: “Apa buktinya?”.
Ia menjawab: "Buktinya adalah kalian mendatangkan dua ekor lembu yang sukar diurus dan belum pernah dipakai bekerja sama sekali. Jika kedua lembu itu melihat peti itu, maka keduanya akan meletakan leher mereka pada kayu tengkuk agar bisa terikat pada mereka.
Kemudian ikatlah peti itu pada seekor anak sapi. Dan ikatlah anak sapi itu pada dua lembu tadi. Biarkanlah berjalan sekehendak Allah akan dikemanakan!". Lalu mereka melakukannya. Kemudian Allah mengutus empat malaikat untuk menggiring kedua lembu itu. Kemudian kedua lembu itu mulai berjalan dengan cepat. Ketika sampai di ujung Baitul Maqdis mereka memecahkan kayu tengkuk mereka dan memotong talinya lalu pergi. Nabi Kemudian dan para pengikutnya menemukan lembu tadi. nabi Ketika Daud melihat peti itu lalu mereka menari-nari kegirangan. -kami bertanya kepada Wahab; apa yang dengan حجل إليه ia menjawab: seperti menari. Istrinya kemudian berkata kepadanya: "Engkau telah membuat malu sampai-sampai orang hampir mencela karena perbuatanmu!". Lalu Daud berkata: "Apakah engkau ingin memperlambatkanku dari melakukan ketaatan kepada Tuhanku?. Engkau bukan lagi istriku sejak saat ini!". Ia lalu menceraikannya?".
Pendapat yang lain mengatakan:hanya peti yang dijadikan oleh Allah sebagai tanda kekuasaan Thalut itu berada di hutan. Musa meninggalkannya pada pembantunya, Yusya'. Lalu dibawa oleh malaikat dan dibawa ke rumah Thalut. Ulama berpendapat demikian mendasarkan pada riwayat-riwayat sebagai berikut:
Dari Bisyr menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, katannya: Sa'id menceritakan kepada kami, dari Qatadah tentang firman Allah: إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِ أَن Sesungguhnya tanda ia" يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu" ia berkata: Musa meninggalkan peti pada pembantunya, Yusya' bin Nun yang sedang berada di hutan. Disebutkan kepada kami bahwa malaikat membawanya dari hutan kemudian diletakan di rumah Thalut .
Dari Al Mutsanna menceritakan kepada saya, ia berkata: Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi Ja'far menceritakan kepada kami, dari bapaknya, dari Ar-Rabi', tentang firman Allah: إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ " Sebenarnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut Anda, ia berkata: disebutkan kepada kami bahwa para malaikat membawa dari hutan kemudian diletakan di rumah Thalut
Abu Ja'far berkata: Pendapat yang paling benar adalah pendapat Ibnu Abbas dan Wahb bin Munabbih. Peti itu berada di tangan musuh Bani Israil yang merampasnya dari tangan mereka. Dasar pendapat ini karena Allah memberitahukan kepada Nabi-Nya pada saat itu firman-Nya kepada Bani Israil : إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التابُوتُ " Sejujurnya tanda ia akan menjadi raja, misalkan kembalinya Tabut padamu". Sedangkan "alif" dan "lam" tidak akan masuk kepada isim dalam hal seperti ini kecuali jika isim itu telah dikenal oleh orang yang diajak berbicara. Jadi yang memberi tahu dan yang diberi tahu sudah sama-sama mengenalnya. Dengan ini maka diketahui maksud firman Allah ini: " sebenarnya bukti kekuasaannya adalah kalian didatangi oleh peti yang telah kalian kenal yang kalian jadikan alat untuk mencapai kemenangan, di dalamnya ada ketenangan dari Tuhan kalian". Kalau memang peti tersebut adalah sebuah peti yang tidak dikenal nilai dan manfaatnya إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ : oleh mereka pasti dikatakan سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu" sesungguhnya tanda kekuasaannya adalah kalian akan didatangi sebuah peti yang mengandung ketenangan dari Tuhan kalian.
Jika orang yang bodoh menyangka: bahwa Bani Israil telah mengenal peti tersebut, nilai dan kandungannya serta peti itu berada pada Musa dan Yusya', maka pendapatnya ini salah sama sekali. Karena tidak ada berita sedikitpun yang sampai kepada kami bahwanya Musa menjumpai musuh dengan peti itu, begitu juga pembantunya, Yusya'. Yang dikenal dari Musa dan Firaun adalah kisah seperti yang diceritakan Allah tentang keduanya, juga cerita tentang Musa dengan orang-orang kuat (orang-orang Kan'an).
Adapun pembantunya, Yusya' sebenarnya orang yang mengatakan kata ini mengira bahwa Yusya' meninggalkan peti itu pada orang sesat sampai digantikan oleh mereka ketika Thalut menjadi raja. Jika seandainya demikian, lalu kondisi apa pada peti itu yang mereka ketahui. Maka bisa saja dikatakan: "Sesungguhnya tanda kekuasaannya adalah peti yang telah kalian kenal, dan kalian ketahui tentangnya". Dengan cacatnya pendapat ini sebagaimana yang kami jelaskan, maka di sini terdapat bukti yang nyata akan kebenaran pendapat yang lain, karena tidak ada pendapat lain selain dua pendapat tersebut. Dan ciri-ciri Tabut seperti yang kami dengar adalah sebagai berikut:
Dari Muhammad bin 'Askar dan Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Bakar bin Abdullah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Kami bertanya pada Wahab bin Munabbih tentang Tabut Musa, bagaimana bentuknya? Dia menjawab: Sekitar tiga kali dua hasta.
Penakwilan firman Allah: فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ (Di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu)
Abu Ja'far berkata: Maksud Allah SWT dengan firman-Nya itu: فِيهِ di dalam Tabut ada سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ "Di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu" (ketenangan dari Tuhan kalian).
Ahli tafsir berbeda pendapat dalam memaknai السكينة Sebagian dari mereka berkata: Tabut itu adalah angin sepoi-sepoi yang memiliki wajah seperti wajah manusia, sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini:
Dari Imran bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Warits bin Sa'id menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Jahadah menceritakan kepada kami, dari Salamah bin Kahil dari Abi Wa'il, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: السكينة adalah angin sepoi-sepoi yang memiliki wajah seperti wajah manusia.
Dari Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Mahdi menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Salamah bin Kahil, dari Abi Al Ahwash, dari Ali: السكينة memiliki wajah seperti wajah manusia dan dia adalah angin yang sepoi-sepoi.
Dari Ya'qub bin Ibrahim menceritakan kepadaku, ia berkata: Hasyim menceritakan kepada kami, dari Al Awam bin Husyab, dari Salamah bin Kahil dari Ali bin Abi Thalib tentang firman Allah: فيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ "Di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu" ia berkata: Angin sepoi yang memiliki rupa. Ya'qub berkata tentang السكينة : Dia memiliki wajah. Ibnu Mutsanna berkata: Seperti wajah manusia.
Dari Ibnu Humaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Jarir menceritakan kepada kami, dari Manshur dari Salamah bin Kahil, ia berkata: Ali berkata: السكينة memiliki wajah seperti wajah manusia dan dia adalah angin yang sepoi-sepoi.
Dari Hannad bin AS-Sauri menceritakan kepada kami, ia berkata: Abul Ahwash menceritakan kepada kami, dari Sammak bin Harb, dari Khalid bin 'Ar'arah, ia berkata: Ali berkata: السكينة adalah angin yang sepoi-sepoi dan dia memiliki dua kepala.
Dari Muhammad bin Al Mutsanna menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Sammak, ia berkata: Aku mendengar Khalid bin 'Ar'arah menceritakan dari Ali cerita yang serupa
Dari Ibnu Al Mutsanna menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Daud menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu'bah, Hammad bin Salamah dan Abu Al Ahwash, menceritakan kepada kami, mereka semua dari Sammak dari Khalid bin 'Ar'arah dari Ali riwayat yang serupa.
Para ahli tafsir lainnya berkata: السكينة memiliki kepala seperti kepala kucing dan memiliki dua sayap, sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini:
Dari Muhammad bin Amr menceritakan padaku, ia berkata: Abu Ashim menceritakan kepada kami, ia berkata: Isa menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid tentang firman Allah: فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ "Di dalamnya terdapat banyak dari Tuhanmu" ia berkata: السكينة rasa dingin, Jibril dan Ibrahim datang dari Syam. Ibnu Abi Najih berkata: Aku mendengar Mujahid berkata: السكينة memiliki kepala seperti kepala kucing dan memiliki dua sayap. 788
Dari Al Mutsanna menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Hudzaifah menceritakan kepada kami, ia berkata: Syibil menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid dengan riwayat yang sama sepertinya 789.
Dari Ibnu Waki' menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Al-Laits dari Mujahid, ia berkata: السكينة memiliki dua sayap dan satu ekor 90.
Dari Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ats-Tsauri memberitahukan kepada kami, dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid, ia berkata: السكينة memiliki dua sayap dan satu ekor seperti ekor kucing.
Para ahli tafsir lainnya berkata: السكينة adalah kepala kucing yang mati, sebagaimana disebutkan oleh riwayat berikut:
Dari Ibnu Humaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Salamah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ishaq dari Wahab bin Munabbih dari sebagian ulama Bani Israil, ia berkata: السكينة adalah kepala kucing yang mati yang jika dia mengeong di dalam Tabut, mereka percaya bahwa mereka akan mendapat bantuan dan kemenangan telah tiba792.
Para ahli tafsir lainnya berkata: السكينة adalah bejana dari emas surga di mana hati para Nabi di cuci didalamnya, sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini:
Dari Abu Kuraib menceritakan kepada kami, ia berkata: Utsman bin Sa'id menceritakan kepada kami, ia berkata: Al Hakam bin Zhahir menceritakan kepada kami, dari As-Suddi, dari Abu Malik dari Ibnu Abbas tentang firman Allah: فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَبِّكُمْ “Di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu” ia berkata: السكينة adalah bejana dari emas surga di mana hati para Nabi dicuci di dalamnya.
Dari Musa bin Harun menceritakan padaku, ia berkata: Amr menceritakan kepada kami, ia berkata: Asbath menceritakan kepada kami, dari As-Suddi tentang firman Allah: فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ "Di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanти". السكينة adalah bejana dari emas surga di mana hati para Nabi di cuci didalamnya. Allah SWT memberikannya pada Musa dan didalamnya diletakkan Al Alwah yang sebagaimana telah kami sampaikan terbuat dari permata, Yaqut dan Zaburzad.
Para ahli tafsir lainnya berkata: السكينة adalah ruh dari Allah SWT yang berbicara, sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini:
Dari Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Bakar bin Abdullah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Kami bertanya pada Wahab bin Munabbih: Apakah السكينة itu? Ia berkata: Ruh dari Allah SWT yang berbicara. Jika mereka berbeda pendapat dalam satu hal, dia berbicara dan menjelaskan apa yang mereka inginkan.
Dari Muhammad bin 'Askar menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Bakkar bin Abdullah menceritakan kepada kami, bahwa dia mendengar Wahab bin Munabbih menyebutkan hal serupa dengan itu.
Para ahli tafsir lainnya berkata: السكينة adalah ayat-ayat yang kalian tahu dan kalian merasa tenang setelahnya, sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini:
Dari Al Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata: Al Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan padaku dari Ibnu Juraij, ia berkata: Aku bertanya pada Atha` bin Abi Rabuh tentang firman Allah: فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ "Di dalamnya ketenangan dari Tuhanmu", ia berkata: السكينة adalah ayat-ayat yang kalian tahu dan kalian merasa tenang di dekatnya.
Para ahli tafsir lainnya berkata: السكينة adalah kasih sayang, sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini:
Dari Ammar bin Al Hasan menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Abi Ja'far menceritakan kepada kami, dari ayahnya dari Ar-Rabi' tentang firman Allah: فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ "Di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu" yaitu rahmat dari Tuhan kalian.
Para ahli tafsir lainnya berkata: السكينة adalah ketenangan hati, sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini:
Dari Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ma'mar memberitahukan kepada kami, dari Qatadah tentang firman Allah: فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ "Di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu" yaitu ketenangan hati.
Abu Ja'far berkata: Pendapat yang paling benar mengenai makna السكينة adalah apa yang dikatakan 'Atha" bin Abi Rabuh yaitu sesuatu yang menenangkan jiwa dari ayat-ayat yang kalian ketahui.
Penakwilan firman Allah : وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ وَالُ مُوسَى وَمَالُ هَرُونَ (Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun)
Abu Ja'far berkata: Maksud Allah SWT dengan firman-Nya:
وَبَقِيَّةٌ adalah sesuatu yang tersisa, dari kata: قد بقي من هذا الأمر بقية dan itu adalah mashdar seperti السكينة dari kata سَكَنَ
وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ عَالُ مُوسَى وَعَالُ هَرُونَ
"Dan sisa dari keluarga Musa dan keluarga Harun"
maksud-Nya: dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun.
Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai apa-apa yang ditinggalkan oleh mereka. Sebagian besar mereka berkata: Peninggalan itu adalah tongkat Nabi Musa dan remukan lauh-lauh (papan tulis), sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini:
Dari Humaid bin Mas'adah menceritakan kepada kami, ia berkata: Bisyr bin Mifdhal menceritakan kepada kami, ia berkata: Daud menceritakan kepada kami, dari 'Ikrimah, ia berkata: Aku mengira Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah: وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ عالُ مُوسَى وَءَالُ هَرُونَ "Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" ia berkata: remukan lauh-lauh (papan tulis).
Dari Muhammad bin Abdullah bin Bazi' menceritakan kepada kami, ia berkata: Bisyr menceritakan kepada kami, ia berkata: Daud menceritakan kepada kami, dari Ikrimah, Daud berkata: Aku mengira Ibnu Abbas mengatakan seperti itu.
Dari Ibnu Al Mutsanna menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al Walid menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad menceritakan kepada kami, dari Daud bin Abi Hind dari Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah: وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ عَالُ مُوسَى وَعَالُ هَارُونَ "Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" ia berkata: Tongkat Nabi Musa dan remukan lauh-lauh (papan tulis).
Dari Bisyr menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa'id menceritakan kepada kami, dari Qatadah tentang firman Allah: وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ عالُ مُوسَى وَعَالُ هَرُونَ "Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" ia berkata: Di dalam Tabut ada tongkat Nabi Musa dan remukan lauh-lauh (papan tulis) seperti yang telah kami sebutkan.
Dari Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ma'mar memberitahukan kepada kami, dari Qatadah tentang firman Allah: وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ عَالُ مُوسَى وَعَالُ هَرُونَ "Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" ia berkata: البقية adalah tongkat Nabi Musa dan remukan lauh-lauh (papan tulis).
Dari Musa menceritakan kepadaku, ia berkata: Amr menceritakan kepada kami, ia berkata: Asbath menceritakan kepada kami, dari As-Suddi tentang firman Allah: وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ عَالُ مُوسَى وَعَالُ هرون "Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" Adapun البقية itu adalah tongkat Nabi Musa dan remukan lauh-lauh (papan tulis). 808
Dari Al Mutsanna menceritakan kepadaku, ia berkata: Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi Ja'far menceritakan kepada kami, dari ayahnya dari ar-Rabi' tentang Dan sisa dari" وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَى وَعَالُ هَرُونَ :firman Allah peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" Tongkat Musa dan bekas sobekan Taurat.
Dari Al Mutsanna menceritakan kepadaku, ia berkata: Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, dari Khalid Al Hidza' dari Ikrimah : وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَى وَعَالُ هَرُونَ tentang firman Allah "Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" ia berkata: Taurat, remukan lauh-lauh (papan tulis), dan tongkat. Ishaq berkata: Waki' berkata: Remukannya adalah pecahannya.
Dari Yaqub menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Ulayyah menceritakan kepada kami, dari Khalid dari Ikrimah tentang firman Allah: وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ عَالُ مُوسَى وَعَالُ هَرُونَ "Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" ia berkata: remukan lauh-lauh (papan tulis).
Para ahli tafsir lainnya berkata: Peninggalan itu adalah tongkat Nabi Musa, tongkat Nabi Harun dan sesuatu dari lauh-lauh (papan tulis), berdasarkan riwayat-riwayat berikut ini:
Dari Abu Kuraib menceritakan kepada kami, ia berkata: Jabir bin Nuh menceritakan kepada kami, dari Isma'il dari Ibnu Abi Khalid dari Abu Shalih tentang firman Allah: أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ lalah" فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَى وَهَالُ هَرُونَ kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" ia berkata: Di dalamnya ada tongkat Nabi Musa, tongkat Nabi Harun dan dua lauh dari Taurat dan al mana (pemberian)
Dari Abu Kuraib menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Idris menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar ayahku dari Athiyah bin Sa'd tentang firman Allah: وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ عَالُ مُوسَى وَعَالُ هَارُونَ "Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" ia berkata: tongkat Nabi Musa, tongkat Nabi Harun, pakaian Nabi Musa, pakaian Nabi Harun dan remukan lauh-lauh (papan tulis).
Para ahli tafsir lainnya berkata: Peninggalan itu adalah tongkat dan dua sandal, sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini:
Dari Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya pada ats-Tsauri tentang firman Allah : وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ عَالُ مُوسَى وَعَالُ هَارُونَ "Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" ia berkata: Di antara mereka ada yang mengatakan peninggalan itu adalah sepotong Manna dan remukan lauh-lauh (papan tulis) dan di antara mereka ada yang mengatakan tongkat dan dua sandal.
Para ahli tafsir lainnya berkata: Peninggalan itu adalah tongkat semata mata, berdasarkan riwayat berikut ini:
Dari Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Bakar bin Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Kami bertanya kepada Wahab bin Munabbih: Apa yang ada di dalam Tabut? Dia menjawab: Tongkat Nabi Musa dan السكينة
Para ahli tafsir lainnya berkata: Itu adalah remukan lauh-lauh (papan tulis) dan pecahannya, sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini:
Dari Al Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata: Al Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Juraij berkata: Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ عَالُ مُوسَى وَعَالُ هَارُونَ "Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" ia berkata: Saat Nabi Musa melemparkan lauh-lauh, lauh-lauh itu pecah dan Nabi Musa mengangkat sebagian dan sebagian lagi diletakkan di dalam Tabut
Dari Al Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata: Al Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan padaku dari Ibnu Juraij, ia berkata: Aku bertanya pada Atha` bin Abi Rabih tentang firman Allah: وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ عَالُ مُوسَى وَعَالُ هرون "Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" ia berkata: Ilmu dan Taurat
Para ahli tafsir lainnya berkata: Itu adalah jihad di jalan Allah SWT, sebagaimana riwayat berikut ini:
Dari Al Husain bin Al Farj menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Mu'adz berkata: Ubaidillah bin Sulaiman memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Adh-Dhahhak : وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَى berkata tentang firman Allah وَعَالُ هَرُونَ "Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" maksudnya dengan البقية mereka berperang di jalan Allah SWT, di dekatnya mereka berpegangan bersama Thalut dan di dekatnya mereka diperintah.
Abu Ja'far berkata: Pendapat yang paling benar adalah sesungguhnya Allah SWT telah menceritakan tentang Tabut yang dijadikannya tanda bagi kebenaran ucapan Nabi SAW berkata pada umatnya: إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا " Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu" (Qs. Al Baqarah [2]: 247), sesungguhnya di dalamnya ada ketenangan dan peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun. Peninggalan itu bisa berupa tongkat, pecahan lauh-lauh dan Taurat, dua sandal, pakaian, jihad di jalan Allah SWT. Masalah ini tidak diketahui dari sudut istikhraj hadits atau bahasa kecuali dengan berita yang bisa dipahami. Dan tidak ada berita dari ulama Islam dalam masalah tersebut. Jika demikian pula, maka tidak diperbolehkan membenarkan satu pendapat dan menyediakan pendapat yang lain karena yang diperbolehkan adalah pendapat yang kami katakan.
Penakwilan firman Allah: تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ (Tabut itu dibawa oleh malaikat).
Abu Ja'far berkata: Ahli tafsir berbeda pendapat tentang cara Malaikat membawa Tabut. Sebagian mereka berkata: Maknanya: Membawanya antara langit dan bumi sampai dia menjamin antara punggung mereka, sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini:
Dari Al Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata: Al Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepada Ibnu Juraij, ia berkata: Ibnu Abbas, ia berkata: Malaikat datang dengan Tabut yang membawanya antara langit dan bumi dan mereka melihatnya sampai malaikat melindungi di sisi Thalut. 819
Dari Yunus menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Wahab memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Zaid berkata: Ketika Nabi dari Bani Israil berkata pada mereka : وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ من يَشَاءُ "Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya (Qs. Al Baqarah [2]: 247), mereka berkata: Mungkin Allah SWT mendatangkannya, tidakkah itu hanya karena keinginanmu? Dia berkata: Jika kalian mendustakanku dan menuduhku, maka sesungguhnya tanda kekuasan-Nya: آن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَى وَعَالُ هرون Ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun" Ibnu Zaid berkata: Maka malaikat turun dengan Tabut pada siang hari dan mereka melihatnya secara langsung sampai mereka meletakkanya di depan mereka dan mereka tetap tidak ridha dan keluar dengan marah. Dia membaca sampai : وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ "Dan Allah beserta orang-orang yang sabar". (Qs. Al Baqarah [2]: 249)
Dari Musa menceritakan kepadaku, ia berkata: Amr menceritakan kepada kami, ia berkata: Asbath menceritakan kepada kami, dari As-Suddi, ia berkata: Ketika Nabi mereka berkata pada mereka: Sesungguhnya" إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَتْهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ، بَسْطَةُ فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa" (Qs. Al Baqarah [2]: 247), mereka berkata: Jika engkau benar, datangkan pada kami sebuah tanda kekuasan-Nya! إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ عَالُ مُوسَى وَعَالُ هَرُونَ تَحْمِلُهُ الملكيكة "Ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; Tabut itu dibawa oleh malaikat", maka Tabut dan apa yang ada di dalamnya berada di rumah Thalut, maka mereka beriman pada kenabian Syam'un dan menerima kekuasaan Thalut.
Dari Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ma'mar memberitahukan kepada kami, dari Qatadah tentang firman Allah: الملَائِكَةَ تَحْمِلَهُ "Tabut itu dibawa oleh malaikat" ia berkata: Malaikat lalu membantu membantu di rumah Thalut
Para ahli tafsir lainnya berkata: Maknanya: Malaikat mengendarai binatang yang membawa, sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini:
Dari Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ats-Tsauri menceritakan kepada kami, dari beberapa orang syaikh, ia berkata: Malaikat membawa di atas anak sapi atau di atas sapi
Dari Al Hasan menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdush Shamad bin Ma'qil memberitahukan kepada kami bahwa dia mendengar Wahab bin Munabbih berkata: Masing-masing dari dua sapi yang membawa Tabut ada empat Malaikat yang mengendarainya, maka dua sapi itu berjalan dengan cepat sampai ketika tiba di Baitul Maqdis, dua ekor sapi itu pergi
Abu Ja'far berkata: Pendapat yang paling benar adalah yang mengatakan bahwa malaikat membawa Tabut dan meletakkannya di rumah Thalut yang berdiri di hadapan Bani Israil. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: تَحْمِلُهُ الْمَلَحِيكَةُ "Tabut itu dibawa oleh malaikat" dan tidak berfirman: تأتى به الملائكة Jika malaikat yang mengendarai sapi, malaikat tidak membawanya, karena yang dianggap membawa adalah yang secara langsung membawa barang bawaannya. Sedangkan apa yang dibawa orang lain, meskipun boleh secara bahasa mengatakan membawanya dengan makna sifatnya sebagai pembawa atau membawa dengan sebabnya, tetapi tidak seperti orang yang membawa secara langsung seperti yang umum diketahui orang. Mengarahkan penafsiran Al Qur'an pada bahasa yang paling populer lebih utama dari pada mengarahkannya kepada pengingkaran selama ada jalan untuk itu.
Penakwilan firman Allah إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مؤمنين (sejatinya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman).
Abu Ja'far berkata: Maksud Allah SWT dengan firman-Nya itu: Bahwa Nabi-Nya Samuel berkata kepada Bani Israil: Sesungguhnya datang Tabut pada kalian yang di dalamnya ada ketenangan dari Tuhan kalian dan peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, malaikat membawanya لَآيَةٌ لَكُمْ "Terdapat tanda bagimu" yaitu sebagai tanda dan petunjuk bagi kalian wahai manusia atas kebenaranku atas apa yang aku beritakan bahwa Allah SWT mengutus Thalut sebagai raja bagi kalian jika kalian mendustakanku atas apa yang aku beritakan pada kalian tentang pengangkatan Thalut sebagai raja oleh Allah SWT bagi kalian dan kalian menuduhku atas beritaku itu. إن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ "Jika kamu orang yang beriman" maksud-Nya: jika kalian membenarkanku saat datangnya tanda yang kalian minta dariku untuk membenarkanku atas apa yang aku beritakan pada kalian tentang masalah Thalut dan kerajaannya.
Kami mengatakan demikian maknanya, karena kaum itu telah mengingkari Allah SWT dengan mendustakan Nabi mereka dan menjawab ucapannya: إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا " Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu” (Qs. Al Baqarah [2]: 247) dengan ucapan mereka: أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih mampu mengendalikan pemerintahan darinya (Qs. Al Baqarah [2]: 247) dan dalam hal permintaan mereka akan bukti untuk menunjukkan kebenarannya. Jika di antara mereka ada yang mengingkari masalah itu, maka tidak bisa dikatakan mereka adalah orang-orang yang mengingkari datangnya Tabut sebagai tanda jika kalian termasuk orang yang beriman pada Allah SWT dan rasul-Nya dan mereka bukan orang yang beriman pada Allah SWT dan rasul-Nya, tetapi maknanya karena mereka meminta bukti atas kebenaran berita Nabi
sumber : Tafsir At Thabari bag 4 hal 337 sd 366

Comments
Post a Comment