Hari Sabtu munculnya ikan ikan dan kaum yang menjadi Kera ( Al Baqarah 65-66)


 
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina". ( AlBaqarah 65)

Abu Ja'far berkata: Kata وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ artinya: dan telah kalian ketahui,

seperti firman Allah: وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ 

artinya: "dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya." (Qs. Al Anfaal [8]: 60). 

Dan penakwilannya: dan kalian telah mengetahui orang-orang yang melampaui batasan-Ku dan melanggar larangan-Ku pada hari Sabtu.

Abu Ja'far berkata: Ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya, membicarakan tentang orang-orang Yahudi yang hidup pada masa Rasulullah SAW, diawali dengan cerita nenek nenek moyang mereka yang melanggar janji Allah, lalu mengingatkan mereka dari adzab Allah yang akan menimpa mereka jika tetap mengingkari kenabian Nabi Muhammad SAW sebagaimana adzab yang menimpa nenek moyang mereka.

Dari Abu Karib menceritakan kepada kami, katanya: Utsman bin Sa'id menceritakan kepada kami, katanya: Bisyr bin Umarah menceritakan kepada kami dari Abu Rauq, dari Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas tentang firman Allah: 

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ أَعْتَدَوْاْ مِنكُمْ فِي السَّبْتِ ia berkata, “Ayat ini merupakan peringatan dari Allah kepada mereka dari perbuatan maksiat, Allah berfirman, 'Awas! Hindarilah adzab yang dapat menimpa kalian seperti yang telah menimpa nenek moyang kalian karena melanggar larangan-Ku'."

Ia berkata, "Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali memerintahkan kepadanya agar menghidupkan syiar Jumat, dan memberitahukan kepadanya tentang keutamaan dan keagungannya di sisi para malaikat, dan bahwasanya hari kiamat akan terjadi pada hari itu. 

Maka barangsiapa yang mengikuti para Nabi yang telah lalu, ia seperti umat Muhammad SAW yang mengikuti Muhammad SAW dalam menghidupkan syiar Jumat, dan barangsiapa yang tidak mengikutinya, ia seperti orang-orang yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ   

Ini disebabkan orang-orang Yahudi mengatakan kepada Musa ketika diperintahkan menghidupkan syiar Jumat, "Wahai Musa, bagaimana engkau menyuruh kami menghidupkan syiar Jumat dan mengutamakannya atas hari-hari yang lain, padahal hari Sabtu adalah hari yang paling mulia, di mana Allah menciptakan langit, bumi, dan makanan dalam enam hari dan semuanya tunduk kepada-Nya pada hari Sabtu, dan ia adalah hari keenam yang terakhir. 

Ia berkata, demikian juga orang-orang Nasrani ketika Isa bin Maryam memerintahkan untuk menghidupkan syiar Jumat, mereka berkata, "Bagaimana engkau memerintahkan kepada kami menghidupkan hari Jumat, sementara yang paling utama adalah hari yang pertama (hari Ahad), dimana Allah adalah Ahad (Yang Maha Esa)?

Maka Allah mewahyukan kepada Isa agar membiarkan mereka memilih hari Ahad, hanya saja hendaknya memerintahkan mereka untuk mengerjakan ini dan itu, akan tetapi mereka tidak mengerjakannya. Maka Allah mengisahkan kemaksiatan mereka dalam Al Kitab. 

Ia berkata, "Demikian juga firman Allah kepada Musa ketika mereka memilih Sabtu hari, agar membiarkan mereka memilih Sabtu hari, hanya saja hendaknya tidak ada seorang pun yang memancing ikan atau yang lainnya pada hari itu, dan tidak seorang pun yang melakukan sesuai yang dikatakan kepada mereka."

Ia berkata, "Lalu tatkala datang hari Sabtu, maka ikan-ikan bermunculan di permukaan laut, dan inilah makna firman Allah:

 إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرِّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِئُونَ لَا تَأْتِيهِمْ 

artinya: "di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan udara, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka menyebabkan mereka berlaku fasik.” (Qs. Al A’raaf [7]: 163)

Dan ketika mereka melihat demikian maka mereka tergoda untuk mengambilnya, namun takut ditimpa adzab, lalu ada sebagian orang yang mengambilnya dan merasa takut dengan adzab yang diancamkan Musa kepada mereka, namun tatkala adzab tidak juga turun, maka mereka semakin berani, bahkan memberitahukan kepada yang lain bahwa ia mengambil ikan tapi selamat dan tidak tertimpa apapun, maka orang-orang pun semakin banyak yang mengikutinya dan mengira bahwa apa yang dikatakan Musa adalah tidak benar, dan 

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ : itulah makna dari firman Allah 

فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَسِئِينَ 

Allah murka kepada mereka yang memancing ikan sehingga merubahnya menjadi kera yang hina. Ia berkata, "Mereka tidak hidup di bumi kecuali hanya tiga hari, tidak makan, tidak minum dan tidak berketurunan. Dan Allah telah menciptakan kera, babi dan seluruh makhluk dalam enam hari seperti yang disebutkan oleh Allah di dalam Kitab-Nya, maka mereka diserupakan seperti kera, dan demikianlah Allah memperbuat apa saja yang dikehendaki-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya pula.

Dari Muhammad bin Humaid menceritakan kepada kami, katanya: Salamah bin Al Fadhl menceritakan kepada kami, katanya: Ibnu Ishaq menceritakan kepada kami dari Daud bin Hushain, dari Ikrimah pelayan Ibnu Abbas, ia berkata, Ibnu Abbas berkata, "Sejujurnya Allah telah memenuhi atas bani Israil apa yang mewajibkan atas kalian pada hari Jumat, lalu mereka merekanya menjadi hari Sabtu dan mengagungkannya serta mengirimkan apa yang ditujukan kepada mereka, dan tatkala mereka sampai Sabtu hari, maka Allah menghadirkan mereka dan mengharamkan atas mereka apa yang dihalalkan-Nya. 

Mereka tinggal di sebuah desa antara Ailah dan Thursina, namanya Madyan, lalu Allah mengharamkan mereka memancing ikan dan bersilangan, di mana ikan-ikan tersebut baru bermunculan pada hari Sabtu, dan jika hari Sabtu berlalu maka ikan-ikan itu pun menghilang. 

Dan, tatkala tak satu pun yang muncul baik yang kecil maupun yang besar, dan jika datang hari Sabtu maka mereka langsung bermunculan, dan jika hari Sabtu telah berlalu, maka ikan-ikan itu pun kembali menghilang semuanya. 

Begitu seterusnya sampai mereka sangat ingin memakan ikan. Maka salah satu diantara mereka mengambil ikan secara sembunyi-sembunyi pada hari Sabtu dan mengikatnya dengan benang di tepi laut kemudian melepaskannya di udara, hingga keesokan harinya ia datang dan mengambil lalu mengaitkannya, dan demikian pada Sabtu berikutnya ia mengulangi perbuatannya hingga orang-orang mencium aroma ikan, maka mereka pun berkata, 'Sungguh kami telah mencium aroma ikan. Akhirnya mereka mengetahui apa yang diperbuat laki-laki tersebut."

 Ibnu Abbas berkata, "Lalu mereka mengikuti caranya, dan makan ikan dengan sembunyi-sembunyi untuk beberapa waktu lamanya, di mana Allah tidak segera menjatuhkan adzab-Nya kepada mereka hingga mereka memancingnya secara terang-terangan dan bahkan menjualnya di pasar. Maka sekelompok orang dari mereka yang baik mengatakan, "Celakalah kalian! Bertaqwalah kalian kepada Allah!" Dan melarang mereka melakukan hal itu. Lalu sebagian orang yang tidak memakannya namun tidak juga melarangnya mengatakan,

وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka, atau mengadzab mereka dengan adzab yang sangat keras.” Mereka berkata, "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian, dan supaya mereka bertaqwa." (Al A’raaf [7]: 164).

Ibnu Abbas berkata, "Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, dimana orang-orang yang baik berada di majelis dan masjid-masjid, tiba-tiba tidak menemukan mereka, maka sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: pasti ada sesuatu atas mereka, marilah kita! Maka mereka pun pergi melihat rumah-rumah mereka dan ternyata mereka tertutup sejak malam hari pada saat mereka menutupnya, dan pagi harinya ternyata mereka telah berubah kera di dalam rumah-rumah mereka, mereka mengenali seorang laki-laki dengan matanya dan ia telah menjadi kera, dan mengenali seorang perempuan dengan matanya dan ia telah menjadi kera, bahkan mengenali anak kecil dengan matanya dan ia telah menjadi kera. Ia berkata, Ibnu Abbas berkata, “Kalaulah Allah tidak menyebutkan bahwa Dia menyelamatkan orang-orang yang melarang melakukan maksiat niscaya kami akan mengatakan bahwa Allah telah membinasakan mereka semua.”

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ ۙ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

"Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, pada waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan udara, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka menyebabkan mereka berlaku fasik." (Qs. Al A'raaf [7]: 163)

Dari Bisyr bin Mu'adz menceritakan kepada kami, katanya: Yazid bin Zurai' menceritakan kepada kami, katanya: Sa'id menceritakan kepada kami dari Qatadah tentang firman Allah: 

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ أَعْتَدَوْاْ مِنكُمْ فِي اَلسَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَسِئِينَ 

Dihalalkan atas mereka ikan dan diharamkan atas mereka hari Sabtu sebagai ujian dari Allah untuk mengetahui siapa yang taat dan siapa yang bermaksiat, maka mereka pun terbagi menjadi tiga kelompok: pertama adalah orang-orang yang menahan diri dari maksiat dan melarangnya, kedua adalah orang-orang yang menahan diri dari maksiat, dan ketiga adalah orang-orang yang melanggar larangan Allah dan durhaka kepada-Nya. 
Dan tatkala mereka enggan meninggalkan larangan Allah, maka Allah melaknat mereka, dan menyatakan : كُونُواْ قِرَدَةً خَسِئِينَ maka mereka pun menjadi kera yang berekor dan bergerombol setelah sebelumnya terpisah antara laki-laki dan perempuan.

Dari Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, katanya: Abdurrazzaq memberitahukan kepada kami, katanya: Ma'mar memberitahukan kepada kami dari Qatadah tentang firman Allah: 

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ أَعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ 

ia berkata, "Mereka dilarang memancing ikan pada hari Sabtu, namun ikan-ikan tersebut malah bermunculan pada hari Sabtu, dan diujilah mereka lalu mereka melanggarnya dan memancingnya, maka Allah menjadikan mereka sebagai kera yang hina.

Dari Musa bin Harun Al Hamdani menceritakan kepadaku, katanya: Amr bin Hamad menceritakan kepada kami, katanya: Asbath menceritakan kepada kami dari As-Suddi tentang firman Allah: 

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَسِينَ 

Ia berkata, "Mereka adalah penduduk Ailah, yaitu sebuah desa dekat laut, dimana pada hari Sabtu - yaitu hari yang Allah mengharamkan orang- orang Yahudi untuk melakukan pekerjaan apapun ikan-ikan bermunculan di permukaan laut, sedangkan pada hari Ahad semuanya bersembunyi di dasar laut dan tidak satu pun yang muncul hingga datangnya hari Sabtu berikutnya, dan itulah makna dari firman Allah Ta'ala: 

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ ۙ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

"Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, pada waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan udara, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka menyebabkan mereka berlaku fasik." (Qs. Al A'raaf [7]: 163)

Lalu sebagian mereka tergoda untuk memakan ikan, maka salah seorang dari mereka membuat parit kecil seperti sungai yang memanjang sampai ke laut, jika tiba hari Sabtu sungai tersebut dibuka hingga ikan- ikan pun masuk ke dalamnya setelah diterpa ombak, dan sebenarnya ikan-ikan tersebut ingin kembali ke laut namun tidak mampu karena air yang ada di sungai sedikit, maka semuanya menetap di situ, lalu setelah tiba hari Ahad orang tersebut pun datang mengambilnya, lalu membakarnya, hingga aromanya tercium oleh tetangganya, maka ia pun bertanya kepadanya, dan setelah diberitahukan maka ia pun meniru cara tetangganya, dan yang lain pun mengikutinya, hingga ketika semuanya telah makan ikan, maka para ulama mereka berkata, 'Celakalah kalian! Karena telah memancing ikan di hari Sabtu, padahal itu diharamkan untuk kalian!' Mereka menjawab, 'Kami tidak memancingnya pada hari Sabtu, melainkan pada hari Ahad ketika kami mengambilnya.' Maka para ulama mereka mengatakan, "Tidak, melainkan kalian memancingnya pada hari ketika kalian membuka saluran sungai sehingga ikan masuk." Mereka pun mengelak, "Tidak!" dan mereka tetap membangkang. Maka sebagian orang yang melarang mereka mengatakan kepada sebagian yang lain:

وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka, atau mengadzab mereka dengan adzab yang sangat keras.” Mereka berkata, "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian, dan supaya mereka bertaqwa." (Al A’raaf [7]: 164).

Ketika mereka enggan meninggalkan perbuatan mereka, maka orang- orang Muslim berkata, "Demi Allah, kami tidak sudi tinggal bersama kalian dalam satu desa!" Maka mereka pun membagi desa tersebut dengan batasan tembok, orang-orang Muslim memiliki pintu sendiri dan mereka juga memiliki pintu sendiri yang dibuka pada hari Sabtu, dan Daud telah melaknat mereka. Maka orang-orang Muslim pun keluar- masuk melaui pintu mereka, dan orang-orang kafir juga keluar masuk melalui pintu mereka. Namun pada suatu hari tidak seorang pun dari mereka yang keluar, akhirnya orang-orang Muslim memanjat pagar untuk melihat mereka, dan ternyata mereka telah menjadi kera yang sedang berlompatan, maka dibukalah pintu mereka dan mereka pun keluar menyebar di bumi. Dan itulah makna dari firman Allah:

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: "Jadilah kamu kera yang hina. (Al A’raaf [7]: 166).

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. ( Al Maidah 78)

Maka jadilah mereka kera

Dari Muhammad bin Amr Al Bahili menceritakan kepadaku, katanya: Abu Ashim menceritakan kepada kami, katanya: Isa bin Maimun menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Abi Najih dari Mujahid tentang firman Allah   :

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُواْ قِرَدَةً خَاسِئِينَ 

ia berkata, “Rupa mereka tidak diubah, melainkan hal ini hanya perumpamaan yang dibuat Allah seperti perumpamaan keledai yang membawa buku-buku.

Dari Al Mutsanna bin Ibrahim menceritakan kepadaku, katanya: Abu Hudzaifah menceritakan kepada kami dari Syibil bin Ubad dari Abdullah bin Abi Najih dari Mujahid ia berkata tentang firman Allah:

 وَلَقَدْ عَامٌمٌ  الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ 

"Yang diubah menjadi kera adalah hati mereka, sedang wajah mereka tetap sebagiamana adanya, hal ini perumpamaan yang dibuat Allah seperti halnya perumpamaan keledai yang membawa buku-buku.

Penakwilan firman Allah : فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُواْ قِرَدَةً خَسِعِينَ  (maka Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kalian kera yang hina.)

Abu Ja'far berkata: Penakwilannya: Maka Kami menitahkan kepada orang-orang yang melanggar ketetapan hari Sabtu agar: jadilah kalian kera yang hina. Dan hari Sabtu asal maknanya adalah istirahat yang tenang dan damai, karenanya orang yang tidur disebut مسبوت  dari akar kata سبت يَسْبُتُ سَبْتًا  Seperti firman Allah: 

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا 

artinya: “dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat." (Qs. An-Naba' [78]: 9).

Adapun kata خاسئين maknanya: diusir dan dijauhkan, dari akar kata: كَالْكَلْبِ إِنْ قُلْتُ لَهُ احْسَأُ الْخَسَأَ : seperti dalam syair خَسَأَ يَحْسَأُ خَساً وَحَسُوْءًا artinya: seperti anjing, jika engkau mengusirnya ia akan pergi dengan hina. Demikian maknanya seperti disebutkan dalam riwayat-riwayat berikut:

Dari Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, katanya: Abu Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, katanya: Sufyan menceritakan kepada kami dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid tentang firman Allah :
 كُونُواْ قِرَدَةً خَسِئِينَ ia berkata, "Dalam keadaan rendah dan hina."

Dari Ahmad bin Ishaq menceritakan kepada kami, katanya: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, katanya: Sufyan menceritakan kepada kami dari seseorang dari Mujahid dengan riwayat yang sama.

Dari Al Mutsanna bin Ibrahim bercerita, katanya: Abu Hudzaifah menceritakan kepada kami dari Syibil bin Ubad dari Abdullah bin Abi Najih dari Mujahid dengan riwayat yang sama.

Dari Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, katanya: Abdurrazzaq memberitahukan kepada kami, katanya: Ma'mar memberitahukan kepada kami dari Qatadah tentang firman Allah: كُونُواْ قِرَدَةً خَسِعِينَ ia berkata "Rendah dan hina."91

Dari Al Mutsanna bin Ibrahim bercerita, katanya: Ishaq bin Al Hajjaj menceritakan kepada kami, katanya: Abdullah bin Abi Ja'far menceritakan kepada kami dari bapaknya dari Rabi' bin Anas tentang firman Allah: كُونُواْ قِرَدَةً خَسِئِينَ ia berkata, “Rendah dan hina.

Dari Al Minjab bin Al Harits menceritakan kepada kami, katanya: Bisyr bin Umarah menceritakan kepada kami dari Abu Rauq dari Adh-Dhahak dari Ibnu Abbas, ia berkata, artinya hina.

Sumber : Tafsir At Thabari

Comments